Setiap Perusahaan yang didirikan tentunya memiliki tujuan-tujuan serta dirancang untuk tidak dijalankan oleh satu dua orang,tetapi oleh banyak orang yang dibekali dengan otoritas dan tanggung jawab serta batas waktu.
Dari aspek permodalan, Perusahaan yang menggunakan modal yang didapat masyarakat atau Pemerintah/Negara, kini tidak lagi bersifat tertutup, sekarang apa yang terjadi dalam Perusahaan dapat dengan mudah dilihat oleh masyarakat, sehingga issu mengenai good corporate governance semakin menjadi lebih membumi, karena harus dapat dilaksanakan.lebih lagi bila dikaitkan dengan aktualitas suatu organisasi. Sedangkan representasi masyarakat yang terlibat lebih dekat lagi dalam pengelolaan Perusahaan adalah Serikat Pekerja
Dilain sisi, Serikat Pekerja Perkebunan memiliki tanggung jawab yang besar untuk melakukan fungsi-fungsinya dalam mensejahterakan anggotanya,
Perusahaan yang dijalankan dengan menejemen yang baik, senantiasa diikuti dengan aspek pengawasan yang baik, sehingga diharapkan dapat memperbaiki kinerja Perusahaan yang pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan anggota dari waktu- kewaktu.
Dengan adanya pemahaman bahwa Serikat Pekerja adalah Mitra Perusahaan (Representasi masyarakat yang terdekat dengan menejemen) yang berjalan seiring serta tidak selalu dalam posisi berhadapan dengan Perusahaan.
Maka anggota Serikat Pekerja diharapkan mampu memberikan masukan pada menejemen, sehingga harus memiliki skill sebagai, konsultan, Assurance, Katalis, Akselator maupun sebagai Pengawas akan jalannya Perusahaan.
Peran seperti ini perlu untuk dipahami oleh seluruh jajaran organisasi Serikat Pekerja dan senantiasa perlu ditingkatkan agar lebih sinergis dengan menejemen dalam meningkatkan nilai tambah Perusahaan serta mencapai Kesejahteraan Bersama.
Karena adanya akuntabilitas,maka setiap pelaku bisnis harus memahami perannya dalam Perusahaan dan peran tersebut tidak hanya dilakukan seperti apa adanya, tetapi harus diikuti dengan fungsi Pengawasan, pengendalian menejemen yang baik
DALAM SKALA YANG LEBIH LUAS
TANGGUNG JAWAB PENGAWASAN BUKAN HANYA MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMERIKSA (SPI) TETAPI SEMUA PIHAK DALAM PERUSAHAAN, TERMASUK SERIKAT PEKERJA
Optimalisasi proses pemurnian dengan sacharat nira kental di Pabrik Gula Jatibarang-Banjaratma
PENDAHULUAN
a. Memberikan manfaat besar kepada perusahaan
b. Menggunakan biaya yang murah
c. Memberikan manfaat secepat mungkin.
d. Memiliki Multiplier effect positif paling banyak.
e. Sekecil mungkin ketergantungan pada pihak lain.
f. Memungkinkan untuk dilaksanakan berdasarkan situasi dan kondisi perusahaan
LATAR BELAKANG
a. Proses pemurnian kurang optimal dng viscusnya nira krn tebu terbakar dan wayu.
b. Effisiensi pemakaian bahan pembantu
c. Salah satu upaya peningkatan kualitas gula
d. Mengurangi effect korosifitas alat bahan besi.
DASAR TEORI
a. Sacharat merupakan ikatan antara Ca dengan sukrose dalam sifat ikatan lemah yang lebih dikenal dengan nama Calsium Sacharat
b. Sacharat nira mentah dapat memperbaiki penggumpalan endapan pada proses pemurnian nira tebu
c. Kelarutan Ca akan semakin baik dengan semakin tingginya kadar sukrose dalam larutan
d. Kadar sukrose nira kental lebih tinggi dibanding nira mentah maka pada sacharat nira kental kesediaan Ca++ lebih banyak
APLIKASI SACHARAT NIRA KENTAL
1. Mencampur nira kental dari penguapan dengan susu kapur 7ยบ Be dan diatur pH campuran larutan tersebut sampai pH 10 – 11.
2. Sacharat nira kental yang sudah jadi diaplikasikan di setasiun pemurnian sebagai pengganti susu kapur yang diberikan ke nira mentah tertimbang sampai pH 7.







KESIMPULAN
1. Aplikasi sacharat nira kental sangat bermanfaat untuk effisiensi di pemurnian sehingga effisiensi proses meningkat.
2. Kualitas bahan baku (tebu) menurun, pengaruh negatif terhadap proses bisa ditekan.
3. Menekan pemakaian belerang yang harganya cukup tinggi.
4. Efek negatif proses hidrolisa sukrose di peti sulfitir nira mentah dapat ditekan sehingga sukrose yang hilang karena inverse berkurang.
5. Dengan kadar SO2 dalam nira yang rendah, dampak korosifitas terhadap peralatan (besi) berkurang
6. Kualitas yg lebih baik ( SNI ),dan gula lebih tahan simpan krn kadar SO2 nya lebih rendah.
Bermula dari mimpi untuk meraih Rendemen 10, salah satu faktor untuk mencapai rendemen tinggi adalah effisiensi proses dengan menekan kehilangan dan kualitas tebu giling yang menurun maka munculah sebuah tulisan ini. Kita wajib berupaya secara logic, ALLAH SWT lah sang maha penentu. Semoga dapat membawa manfaat untuk pabrik yang kita cintai ini. TERIMA KASIH.
Oleh :
PRAMONO HARDJANTO, BSc & TIM PENGOLAHAN
PG. JATIBARANG 2009
Kenaikkan harga gula saat ini dinilai merupakan peluang untuk meningkatkan produksi dalam negeri sehingga nantinya tidak lagi bergantung pada impor.
Dirjen Perkebunan Departemen Pertanian, Achmad Mangga Barani, di Jakarta, Selasa (25/8) mengatakan saat ini waktu yang tepat bagi industri gula dalam negeri, khususnya milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk memperbaiki pabrik gula (revitalisasi pabrik) serta bagi petani memperluas areal tanam tebu. \"Harga yang tinggi ini merupakan kesempatan yang baik bagi produsen gula dalam negeri untuk merevitalisasi pabrik gula (PG),\" katanya.
Menurutnya, pada 2008 ketika harga gula anjlok di bawah harga penyangga pemerintah Rp5.100/kg, banyak PG yang membatalkan revitalisasi, namun naiknya harga saat ini menjadi kesempatan baik bagi industri gula dalam negeri. Perbaikan pabrik, tambahnya, terutama mesin penggilingan, dapat meningkatkan rendemen yang saat ini hanya sekitar 6-7% menjadi sekitar 10%.
Achmad menambahkan dengan 52 PG milik BUMN maka setiap kenaikan rendemen 1 poin akan ada tambahan produksi sebanyak 400 ribu ton. Kenaikan harga gula di pasar internasional yang membuat industri gula rafinasi sulit mengimpor produk tersebut juga menjadi kesempatan mendorong pabrik rafinasi menyerap gula tebu dari PG dalam negeri.
Selama ini, tambahnya, PG rafinasi mendapatkan bahan baku raw sugar dari impor. Namun demikian, Dirjen menyangkan himbauan Menteri Perindustrian agar pabrik gula rafinasi menyerap gula produksi PG dalam negeri belum berjalan.
\"Harusnya jangan sebatas himbauan tapi kewajiban. Untuk itu harus ada kemauan keras dari pemerintah agar imbauan itu menjadi kewajiban sehingga ditaati industri gula rafinasi,\" katanya.
Dia menjelaskan, dari hasil pertemuan di Bangkok, Thailand, pekan lalu terungkap kenaikkan harga gula di Indonesia karena pengaruh harga di pasar dunia atau lebih banyak karena faktor luar negeri, bukan produksi dalam negeri yang kurang. Konsumsi gula langsung tahun ini diperkirakan sebanyak 2,7 juta ton, sedangkan produksi ditargetkan 2,8-2,9 juta ton. Hingga 31 Juli produksi gula dalam negeri sudah sebanyak 1,2 juta ton dan stok gula sebanyak 402 ribu ton, lanjutnya, artinya pasokan gula dalam negeri ada, karena Indonesia masih mengimpor raw sugar (gula mentah) untuk industri gula rafinasi sebanyak 1,2 juta ton/tahun.
Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah berjanji menyelesaikan evaluasi produksi gula pada Oktober sebagai dasar mengambil keputusan dalam pengamanan stok tahun depan.
"Ada dua skenario produksi, yang pesimis maupun optimis. Stok di akhir tahun menjadi perhatian yang kita cermati," kata Deputi Menko Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan, Bayu Krisnamurthi, di Jakarta, Selasa.
Usai rapat koordinasi dengan Menteri Perdagangan, Menteri Negara BUMN, Menteri Perindustrian, dan Menteri Pertanian, Bayu menyebut target optimistis produksi gula nasional adalah 2,89 juta ton, sedangkan target pesimistisnya 2,6 juta ton.
"Stok gula jika dilihat dari jumlah konsumsi dan produksi besarnya mendekati satu juta ton. Itu tersebar di pedagang dan produsen," ujarnya.
Pemerintah masih memprediksi tingkat konsumsi gula nasional di akhir tahun, mengingat saat ini konsumsi gula kristal putih naik sekitar 30 sampai 40 persen karena permintaan industri kecil menengah (IKM).
"Jadi kita hitung ulang lagi, Juli-Agustus ini serapan IKM atas gula kristal putih diperkirakan naik sekitar 250ribu ton. Ini yang mempengaruhi sisa stok kita," tuturnya.
Sementara, konsumsi gula rata-rata nasional mencapai 2,1 kg per bulan per rumah tangga.
"Jadi sebenarnya relatif kecil, yang dampaknya akan besar tadi (serapan IKM)," tambahnya.
Selain itu, pemerintah juga akan mengamankan kebutuhan gula bagi masyarakat di perbatasan mengingat ada indikasi pemerintah Malaysia akan memperketat penjualan gula melalui perbatasan.
"Pemerintah Malaysia sekarang sedang mengalami tekanan berat akibat subsidi yang tinggi pada gula. Padahal di daerah perbatasan, masyarakat kita mengkonsumsi gula Malaysia. Mereka akan memperketat perdagangan gula ke perbatasan," katanya.
Bayu menjelaskan keputusan impor akan tergantung dari jumlah konsumsi gula hingga akhir tahun ini.
2010 Harga Turun
Saat ini, kondisi pasar internasional masih belum stabil dan masih ada kemungkinan harga gula naik lagi.
"Tapi pada 2010 harga internasional diprediksi akan meluncur turun. Jadi kita harus tahan dulu (keputusan impor). Selain harga yang penting adalah di tengah harga yang tinggi barangnya harus ada. Itu yang kita ingin hitung lagi," tuturnya.
Penurunan harga itu, lanjut Bayu, terjadi karena Brazil sebagai eksportir gula terbesar dunia telah mengalihkan produksinya kembali ke gula dari etanol.
"Harga future pada kuartal I dan semester I 2010 sudah menunjukkan adanya perbaikan atau menurun," ujarnya.
Pada sisi lain, India diperkirakan akan melakukan impor secara agresif menyusul menipisnya stok gula negara itu.
Saat ini, Indonesia mengalokasikan impor gula mentah 2009 sebanyak 1,68 juta ton dan gula rafinasi sebanyak 300 ribu ton dengan empat kriteria khusus yaitu gula spesifikasi khusus, untuk kawasan berikat, untuk tujuan ekspor dan impor sebagai fasilitas investasi.
"Alternatif yang akan kita putuskan nanti (Oktober) itu apakah ketentuan itu dipertahankan atau dilepas," ujar Bayu.
Sementara itu, pemerintah membuka peluang impor gula atau penambahan alokasi impor serta penurunan Bea Masuk (BM) gula impor.
"BMB sedang dikaji oleh Tim Tarif," tuturnya.







